SEJARAH PEMBANGUNAN KA’BAH

Ukuran ka’bah
Ka’bah memiliki tinggi 14 meter, panjang disudut multazam (antara Rukun Hajar Aswad – Rukun Iroq) 12,84 meter, panjang di sudut Hijir ismail (Rukun Iroq – Rukun Syam) 11,28 meter, panjang antara rukun Syam – Rukun Yaman 12,11 meter dan antara Rukun yaman – Rukun hajar Aswad 11,52 meter.


Pintu Ka’bah
Pintu Ka’bah pada zaman nabi Ibrohim ‘Alaihissalam ada dua, pintu sebelah timur dan barat. Keduanya melekat dengan bumi tanpa memiliki daun pintu. Raja Tubba’ III yang bernama As’ad akhirnya memberikan daun pintu untuk ka’bah.
Ketika orang quraisy merenovasi ka’bah, pintunya diangkat ke atas sehingga orang sulit untuk masuk, dan pintu sebelah barat di tutup.
Sedangkan pintu yang ada sekarang tingginya 2 meter dari atas tanah di lapisi dengan emas dan perak di buat pada tahun 1399 H dengan menghabiskan biaya sebanyak 13.420.000 Real Saudi dan emas seberat 200 kg.

Tiang ka’bah
Ketika kaum Quraisy memebangun ka’bah, tiangnya ada enam buah dalam dua baris dan dibuatlah atap ka’bah. Ketika Abdullah bin Zubair membangun ka’bah, tiangnya hanya ada tiga buah untuk menopang atap ka’bah. Masing-masing jaraknya 2,38 meter. Di sebelah kanan pintu di sediakan tangga untuk naik ke atap ka’bah.

Al Hatim
Ada beberapa pendapat tentang Al Hatim, tetapi ibnu Abbas mengatakan bahwa itu adalah Hijir Ismail yang merupakan dinding ka’bah yang berdiri di atas pondasi nabi Ibrohim yang telah di robohkan. Kemudian tempat di mana dinding itu di robohkan sekarang di namakan Hijir Ismail.

Al mutazam
MULTAZAM Adalah tempat di antara Hajar Aswad dan pintu ka’bah yang lebarnya kurang lebih dua meter. Multazam termasuk salah satu tempat mustazabnya do’a. orang yang berdo’a di Multazam di sunnahkan untuk menempelkan pipi, dada, dua lengan dan dua telapak tangannya di dindingMultazam, karena Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam telah berbuat demikian.

Sebagaimana hadist di bawah ini:
عَنْ عَمرو بن شعيب عن آبيه قال طفت مع عبد الله فلما جآنا دبر الكعبه قلت آلا تتعوذ قال نعوذ بالله من النار ثم مضى حتى استلم الحجر وآقام بين الر كن والباب فوضع صد ره ووجهه وذ را عيه وكفيه هكذا وبسطهما بسطا ثم قال هكذا رآيت رسوالله صلى الله عليه وسلم يفعله
dari amr bin Syuaib dari bapaknya dia berkata : Aku thowaf bersama Abdillah, ketika kami dating di belakang ka’bah aku berkata : Apakah kamu tidak membaca ta’awudz? Abdillah berkata : Aku berlindung pada Allah dari neraka. Kemudian dia meneruskan thowafnya sehingga dia mengusap hajar Aswad dan berdiri di antara Rukun hajar Aswad dan pintu ka’bah, maka dia meletakkan dadanya, wajahnya, dua lengannya dan dua telapak tangannya begini, dan Abdillah membentangkan dua tanggannya sungguh-sungguh, kemudian dia berkata : demikianlah aku melihat Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam melakukannya (HR.Abi Dawud).

Hajar Aswad
Hajar aswad adalah batu yang tertanam di rukun ka’bah sebelah selatan (sebelah tenggara) pada ketinggian sekitar 1,10 meter dari tanah, panjang 25 cm dan lebarnya sekitar 17 cm. awalnya merupakan satu bongkah batu saja, tapi sekarang pecah berkeping-keping sehingga menjadi delapan kepingan kecil. Ini terjadi pada zaman qoromithah, yaitu mazhab dari syi’ah ismailiyah al bathiniyah dari pengikut abu thohir al qoromithi yang telah mencabut hajar aswad dan membawanya ke ihsa pada tahun 317 H kemudian dikembalikan ke ka’bah pada tahun339 H. kejadian ini bermula pada hari tarwiyah (8 dzulhijah) tahun 317 H, ketika abu thohir al qoromithi bersama 900 orang pengikutnya telah melakukan kekejaman dan kerusakan di dalam masjidil harom. Mereka membunuhi para jama’ah haji dan melemparkannya ke dalam sumur zam-zam. Korbannya mencapai 300.000 orang. Kemudian mereka mencabut hajar aswad dan membawanya ke negeri mereka. Tujuannya agar orang-orang melakukan ibadah haji di negeri mereka, sebagaimana raja abrohah membangun ka’bah di negaranya. Selama 22 tahun tempat hajar aswad berada di negeri al qoromithi. Namun setelah abu thohir al qoromothi meninggal dunia, sanbar bin al hasan qoromithi mengembalikan hajar aswad ke tempat semula di ka’bah.
Kefadholan hajar aswad
Hajar aswad merupakan batu surga yang telah dihilangkan cahayanya, HR. tirmidzi, yang di tempatkan di rumah allah di bumi, dikecup oleh bibir para nabi dan bibir yang mulia nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, bibir-bibir orang yang sholih dan para jama’ah haji dan umroh sepanjang sejarah, menjadi titik permulaan dan berakhirnya thowaf dan merupakan tempat mustajabnya doa. Hjar aswad akan menjadi saksi di hari kiamat bagi orang-orang yang pernah menyalaminya (mengusapnya) HR. tirmidzi. Bagi orang yang mengusap hajar aswad akan dihapus kesalahan-kesalahannya, HR. ahmad.
Talang Air (Mizab)
Terletak di bagian atap ka’bah, tepat di atas hijir ismail. Talang air ini dibuat untuk memperlancar pembuangan air dari atap ka’bah ketika proses pencucian maupun guna menghindari genangan air akibat hujan. Kaum quraisy yang pertqama kali membuatnya bersamaan dengan dibangunnya atap ka’bah (sebelum direnovasi kembali oleh quraisy, ka’bah tidak mempunyai atap). Kemudian diperbaharui kembali pada tahun 1417 H berdasarkan ukuran aslinya sebagaimana yang telah dihadiahkan oleh sultan abdul majid khan al utsmani tahun 1273 H. di bagian depannya tertulis “bismillahirrohmanirrohim – ya alloh” sedangkan di sisi kirinya tertulis :
جد د هذا الميزاب خادم الحرمين الشريفين الملك فهد بن العزيز ال سعود ملك المملكه العربيه السعوديه
“talang ini diperbaharui oleh pelayan dua tanah harom: raja fahd bin abdul aziz ali saud, raja arab Saudi. Sementara di bagian atapnya ditanam paku-paku kecil agar burung-burung tidak dapat hinggap di atasnya. Talang ini dilapisi dengan emas sehingga sering disebut talang emas. Sebagian ulama telah memandang bahwa berdoa disini adalah mustajab.

Rukun Yamani
Letak rukun yamani sejajar dengan haajr aswad dan merupakan salah satu sudut ka’bah yang menghadap kea rah yaman. Rukun ini berada di atas pondasi ka’bah yang pernah ditinggali oleh nabi ibrohim ‘alaihissalam. Imam tirmidzi meriwayatkan dari ibnu abbas bahwa nabi sholallohu ‘alaihi wasallam hanya menyalami (mengusap) rukun yaman dan rkun hajar aswad saja.
Menurut imam al fakihi dengan sanadnya yang shohih, bahwa said bin jabir apabila dia melewati rukun yaman dia mengusapkan tangannya. Sedangkan ibnu umar mendengar rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: mengusap rukun yaman dan rukun hajar aswad itu menghapus dosa-dosa (HR. tirmidzi). Rukun yaman juga termasuk tempat mustajab (HR. al fakihi dengan sanad shohih).

Syadzarwan
Syadzarwan ini berada dalam bagian bangunan yang berbentuk melengkung di bawah dinding ka’bah sampai ke permukaan tanah, kecuali di hijir ismail, karena ambang pintu di hijir ismail merupakan bagian ka’bah dengan tinggi 13 cm dan lebar 45 cm. di atas inilah orang berdiri untuk berdoa kepada alloh dengan menempelkan perut, lengan dan wajah mereka. Sebetulnya, Syadzarwan ini merupakan bagian dari ka’bah juga, karena berada di atas pondasi nabi ibrohim ‘alaihissalam. Tetapi kaum quraisy kemudian menguranginya dari kelebaran pondasi dinding ka’bah. Manurut mereka, Abdullah bin zubair membangun Syadzarwan untuk melindungi ka’bah dari genangan dan aliran air serta mengikatkan tali kiswah penutup ka’bah pada gantungan tetap berbentuk bulat yang ada padanya. Hal ini menghindarkan gesekan orang yang sedang thowaf dengan kiswah dan dinding ka’bah sehingga tidak membahayakan mereka saat berdesak-desakan.
Jadi, pada Syadzarwan dan ambang pintu hijir ismail tersebut dibuat gantungan berbentuk bulat dari tembaga sebanyak 12 di hijir ismail dan 43 buah di sekeliling ka’bah, total 55 buah. Batu-batu yang digumakan untuk menutup Syadzarwan tersebut ialah batu pualam dari Janis marmer yang kuat dank eras. Saat direnovasi tahun 1417 H yaitu pada masa raja fahd, batu-batu pualam tersebut diperbaharui lagi.
Panjang Syadzarwan di sisi multazam 12,84 meter, panjang antara rukun yaman dan hajar aswad 11,52 meter, panjang antara rukun yaman dan hijir ismail 12,11 meter, jarak antara dua ambang pintu hijir ismail 11,28 meter (tareh makkah qodiman wa haditsan).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar